Gerbang Utama

Patung Gajah Putih Bertaring 3 Pasang

Patung Gajah Putih bertaring 3 (tiga) pasang, adalah gerbang utama (main gate) Vihara Buddha Guna. Gajah istimewa ini hadir dalam mimpi Ratu Siri Maha Maya Dewi. Gajah ini berjalan memutari dan akhirnya memasuki  perut Sang Ratu sebagai pertanda bahwa Sang Ratu akan mengandung Boddhisatta (Calon Buddha).

Penempatan paung gajah ini juga sebagai pertanda bahwa “story dan history Sang Buddha siap dikumandangkan di vihara yang bernama Buddha Guna mengetengahkan kebajikan Sang Buddha.

Patung Gajah yang berkesan kuat dan gagah, memperkuat tekad panitia mewujudkan impianya untuk memugar vihara ini, menjadi vihara yang istimewa.                           

 

Relief Dhukka : Moha Loba Dosa

Sumber Dhukkha

lobha-dosa
Relief Moha, Lobha, Dosa

Relief ini mengingatkan bahwa Ajaran Buddha hanya mengupas yang satu ini; sumber “Dukkha” dan bagaimana lenyapnya “Dhukkha”. Kehidupan manusia yang berulan-ulang (tumimbal lahir) bersumberkan pada belenggu yang disebut dengan Moha / Kekelirutahuan (Babi), loba / Keserakahan (Ayam) dan Dosa / Kebencian (Ular) yang akhirnya membentuk Ego / Keakuan.

Diletakan dilantai dasar untuk mengingatkan kita ke Vihara untuk belajar dan mengikis 3 akar kejahatan ini, dengan mengendapkan ego/keakuan pada tempat yang paling dasar, untuk memunculkan ke “Bodhi” an yang ada dalam setiap manusia (mano = pikiran, usa = luhur).

Seperti usaha dan perjuangan Boddhisatta menjadi Buddha yang reliefnya ada di depan dan sifat-sifat mulia-Nya (Buddhanusati) terukir pada papan kayu jati di atas relief ini.

Untitled-1

Bangunan Kembar

Untitled-1
Twin Building

Bangunan kembar ini terletak disebelah barat ketika memasuki areal vihara walaupun dengan luas ruang yang cukup minim namu ruangan dirancang agar berkesan lega.

Pengunjung dapat dengan nyaman membaca koleksi buku-buku, menyaksikan video tentang keagungan Sang Buddha dan Ajara-Nya, serta tentang Vihara Buddha Guna.

Bangunan kembar ini terletak disebelah timur di depan bangunan utama. Terbagi menjadi dua ruangan yang berfungsi sebagai ruang informasi dan security, di ruangan ini pengunjung mendapatkan pelayanan informasi tata tertib dan tentang vihara ini.

Ruangan sebelahnya  berfungsi sebagai ruang bursa (merchandise) yang menjual cinderamata Khas Vihara Buddha Guna.

Pilar Asoka

pilar-asoka
Pilar Asoka

Pilar Asoka adalah pilar yang dibangun oleh Raja Asoka, seorang Maharaja sepanjang sejarah India yang lair ± 500 tahun setelah Buddha Parinibbana.

Pembangunan Pilar Asoka adalah sebagai bentuk penghormatan Raja Asoka terhadap Guru Buddha Gotama, karena berkat Dhamma yang diajarkan-Nya menyadarkan sang raja untuk hidup sesuai Dhamma dari kekeliruanya membasmi sanak saudaranya dan menaklukan kerajaan-kerajaan disekitarnya.

Pilar Asoka perlambang perdamaian dan kerukunan Umat Beragama sarat akan pesan Dhamma yang tertuang dalam ukiranya yang indah, seperti : Roda Dhamma yang melambangkan Kebenaran Mulia yang diajarkan Sang Buddha, Gajah melambangkan kelahiran Bodhisatta dalam mimpi Ratu Siri Mahamaya Dewi, Kerbau melambangkan tekad dan keperkasaan Pangeran Sidattha Gotama, Kuda melambangkan Pelepasan Agung menunggangi Kuda Kanthaka dan Singa melambangkan Buddha adalah Raja Dhamma seperti Singa sang raja rimba.

Dekrit Maharaja Asoka

Dekrit Perdamaian dan Kerukunan Hidup Beragama

dekrit

“JANGANLAH KITA MENGHORMAT AGAMA SENDIRI DENGAN MENCELA AGAMA ORANG LAIN.

SEBALIKNYA, AGAMA ORANG LAIN DIHORMATI ATAS DASAR-DASAR TERTENTU.

DENGAN BERBUAT DEMIKIAN, KITA TELAH MEMBANTU AGAMA KITA SENDIRI UNTUK BERKEMBANG,

DI SAMPING MENGUNTUNGKAN PULA AGAMA LAIN.

DENGAN BERBUAT SEBALIKNYA, MAKA KITA AKAN MERUGIKAN AGAMA KITA SENDIRI

DI SAMPING MERUGIKAN AGAMA ORANG LAIN.

OLEH KRENA ITU, BARANG SIAPA MENGHORMAT AGAMANYA SENDIRI DENGAN MENCELA AGAMA

ORANG LAIN SEMATA-MATA KARENA DORONGAN RASA BAKTI KEPADA AGAMANYA SENDIRI DENGAN BERPIKIR: ‘BAGAIMANA AKU DAPAT MELUPAKAN AGAMAKU SENDIRI’, MAKA DENGAN BERBUAT DEMIKIAN IA MALAH MERUGIKAN AGAMANYA SENDIRI.

OLEH KARENA ITU, TOLERANSI DAN KERUKUNAN BERAGAMALAH YANG DIANJURKAN, DENGAN PENGERTIAN, BAHWA SEMUA ORANG

SELAIN MENDENGARKAN AGAMANYA SENDIRI

HENDAKNYA BERSEDIA PULA MENDENGARKAN AJARAN YANG DIANUT OLEH ORANG LAIN…”

 Kinara dan Kinari

KINARA-KINARI
Kinara Kinari

 

Boddhisatta Buddha Gotama pernah terlahir sebagai Kinara dan Putri Yasodhara saat itu terlahir sebagai Kinari (Manusia yang berbadan burung).

Patung Kinara dan Kinari ditempatkan di pilar canopy sebagai perlambang cinta kasih dan kesetiaan.

Penempatan Patung Kinara dan Kinari di depan bangunan utama dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa Guru Agung Buddha Gotama menyebarkan Dhamma karenya cinta kasih-Nya kepada umat manusia dan alam semesta.

Patung ini juga berfungsi sebagai elemen estetika yang artistik yang mengesankan keluwesan dan keanggunan, diharapkan dapat menuntun umat yang berkunjung untuk memulai memperhatikan tindak tanduknya, kesopanannya memasuki areal vihara yang mengagungkan keluhuran sifat-sifat mulia Seorang Buddha.

Buddha Kicca

 

BUddha-kicca
“Buddha Kica” Kegiatan Sehari-hari Sang Buddha Selama 45 Tahun Melayani Alam Semeta dengan Penuh Welas Asih Sebagai Ikon dari Vihara Buddha Guna

 

Relief Buddha Kicca

(Gambar 1)

Pk. 04.00-05.00

Meditasi Menikmati Nibbana

(Gambar 2)

Pk. 05.00-06.00

Meditasi Memindai Dunia

(Gambar 3)

Pk. 06.00-12.00

Pindapata

(Gambar 4)

Pk. 12.00-18.00

Khotbah Dhamma Untuk Umat

(Gambar 5)

Pk. 18.00-22.00

Khotbah Dhamma pada Bhikkhu

(Gambar 6)

Pk. 22.00-02.00

Khotbah Dhamma pada Dewa

(Gambar 7)

Pk. 02.00-03.00

Meditasi Cankamana

(Gambar 8)

Pk. 03.00-04.00

Tidur (Perhatian Murni)

 

Buddhanusati

PERENUNGAN TERHADAP KEMULIAAN SIFAT SANG BUDDHA

itipiso

ITIPISO BHAGAWÂ ARAHAÑ SAMMAÂ – SAMBUDDHO

VIJJÂCARANA – SAMPANNO SUGATO LOKAVIDU

ANUTTARO PURISADAMMASÂRATHI

SATTHÂ DEVAMANUSSÂNAM

BUDDHO BHAGAVÂ’TI

KARENA INILAH SANG BHAGAWA, DISEBUT YANG MAHA SUCI,

YANG TELAH MENCAPAI PENERANGAN SEMPURNA,

SEMPURNA PENGETAHUAN SERTA TINDAK-TANDUKNYA,

SEMPURNA MENEMPUH SANG JALAN (KE NIBBÂNA),

PENGENAL SEGENAP ALAM, PEMBIBING MANUSIA YANG TIADA TARANYA,

GURU PARA DEWA DAN MANUSIA YANG SADAR (BANGUN), YANG PATUT DIMULIAKAN.

 

THIS BLESSED ONE IS HOLY, A FULLY ENLIGHTENED ONE

PERFECTED IN WISDOM AND VONDUCT,

FARING HAPPYLY, KNOWER OF THE WORLDS,

UNSURPASSED LEADER OF MEN TO BE TRAINED,

TEACHER OF HEAVENLY BEING AND MEN,

A BUDDHA, A BLESSED ONE.

naga-eraka
Naga Erakapatta sebagai penopang lantai 1,2,3 merupakan penyatu baik secara vertikal maupun horisontal bangunan ini karena terkisahkan sulitnya munculnya seorang Buddha dari kisah Naga erakapatta yang tertuang pada ukiran kayu di lantai 1 (Dhammapada 182)

KISAH NAGA EKAPATTA

            Ada seekor raja naga yang bernama Erakapatta. Dalam salah satu kehidupanya yang lampau selama masa Buddha Kasapa ia telah menjadi seorang bhikkhu untuk waktu yang lama. Karena gelisah (kukkucca) ia telah melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil selama itu, dan ia terlahir sebagai seekor naga. Sebagai seekor naga, ia menunggu munculnya seorang Buddha baru. Erakapatta memiliki seorang putri cantik, dan ia memanfaatkanya untuk tujuan menemukan serang Buddha. Ia membuat putrinya terkenal sehingga siapapun yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sang putri berhak memperistrinya. Dua kali dalam sebulan, Erakapatta membuat putrinya menari di udara terbuka dan mengumandangkan pertanyaan-pertanyaanya. Banyak pelamar yang datang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan berharap memilikinya, tetapi tak seorangpun dapat memberikan jawaban yang benar.

            Suatu hari, Sang Buddha melihat seorang pemuda yang bernama Uttara dalam pandangan-Nya. Beliau mengetahui bahwa si pemuda akan mencapai tingkat kesucian sotapatti, sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh putri Erakapatta, sang naga. Pada saat itu si pemuda telah siap dengan perjalannya untuk bertemu dengan putri Erakapatta. Sang Buddha menghentikannya dan mengajarinya bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketika sedang diberi pelajaran, Uttara mencapai tingkat kesucian sotapatti. Sekarang disaat ia telah mencapai tingkat kesucian sotapatti, ia tidak lagi memiliki keinginan terhadap putri Erakapatta. Bagaimanapun, Uttara tetap pergi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk kebaikan banyak makhluk.

Keempat pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Siapakah penguasa?
  2. Apakah seorang yang diliputi oleh kabut kekotoran moral dapat disebut sebagai seorang penguasa?
  3. Penguasa apakah yang bebas dari kekotoran moral?
  4. Orang seperti apakah yang disebut tolol?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas adalah sebagai berikut:

  1. Ia yang mengontrol enam indera adalah seorang penguasa.
  2. Seorang yang dilputi oleh kabut kekotoran moral tidak dapat disebut sebagai seorang penguasa; ia yang bebas dari kemelekatan disebut seorang penguasa.
  3. Penguasa yang bebas dari kemelekatan adalah yang bebas dari kekotoran moral.
  4. Seorang yang menginginkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu adalah yang disebut tolol.

Mendapatkan jawaban yang benar seperti diatas, putri naga meneriakan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan arus hawa nafsu, kehidupan berulang-ulang, pandangan-pandangan salah, kebodohan dan bagaimana mereka ditanggulanginya. Uttara menjawab pertanyaan-pertanyaan ini seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.

            Ketika Erakapatta mendengar jawaban-jawaban ini ia tahu bahwa seorang Buddha telah muncul di dunia ini sehingga ia meminta Uttara mengantarkanya menghadap sang Buddha. Saat melihat Sang Buddha, Erakapatta menceritakan bagaimana ia telah menjadi seorang bhikkhu selama masa Buddha Kasapa, bagaimana ia tidak sengaja menyebabkan sebilah pisau rumput patah ketika sedang melakukan perjalanan di atas perahu, dan bagaimana ia sangat khawatir bahwa kesalahan kecil yang telah diperbuatnya akan menggagalkan usaha pembebasan dirinya, akhirnya ia terlahir seekor naga.  Setelah mendengarnya, Sang Buddha mengatakan kepada sang naga, betapa sulit untuk dilahirkan di alam manusia, dan dilahirkan pada saat munculnya para Buddha atau selama para Buddha mengajar.

      Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 182 berikut:

Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia, sungguh sulit kehidupan manusia, sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.

Khotbah di atas bermanfaat bagi banyak mahkluk namun Erakapatta sebagai seekor hewan tidak mampu mencapai tingkat kesucian sotapatti.

KONSEP PEMUGARAN VIHARA BUDDHA GUNA – NUSA BALI

 

            Memperhatikan kondisi vihara yang perlu segera penanganan yang serius, panitia harus mempertimbangkan dengan bijaksana usaha yang akan ditempuh dalam pemugaran ini. Merencanakan dari awal tentu akan lebih mudah daripada merubah yang ada dengan memperhatikan kondisi yang ada, memaksimalkan fungsi ruang namun meminimalisasikan budget, disamping mempertahankan dengan “memoles” yang telah ada. Sungguh sebuah tantangan karena pemugaran tentunya dua kali kerja yaitu pekerjaan bongkar dan pekerjaan membangun kembali. Demikian pula jika pekerjaan ini diambil setengah-setengah/tidak tuntas maka tentunya akan memperlihatkan pemandangan yang tidak elok.

            Bagaikan sebuah mimpi bagi panitia untuk mewujudkan vihara yang refresentatif namun ada tekad, keyakinan dan semangat untuk mengahdapi tantangan ini. Akhirnya panitia didukung oleh Forum Ibu-ibu Buddhis Bali dalam penggalian dana, kemudian intensif memikirkan dan bekerja keras dengan penuh keyakinan mewujudkan karya yang terbaik untuk Umat Buddha Bali.

            Vihara Buddha Guna sebagai “Jendela Mengenal Buddhisme di Bali” dan dicanangkan sebagai “Bali Theravadin Buddhist Centre (BTBC)” didesain sarat akan pesan-pesan Dhamma, menampilkan “ Keagungan Sang Buddha”, yang tertuang dalam Buddhanusati (Perenungan terhadap Sifat-sifat Mulia Sang Buddha)”. Sebagai layaknya sebuah vihara maka tempat ini dirancang dengan Konsep Perancangan (Design Concept).

Spritualis~Elegance~Edukatif

~Spiritualis

Memberikan kesan yang tenang, khidmat, agung, megah, menggugah perasaan dan membuat yang berkunjung sadar, dan penuh perhatian,  untuk menaruh rasa hormat dan berhati-hati dalam setiap ruangan. Memunculkan spirit/energy yang positif karena terinspirasi berada dalam ruangan ini.

~Elegance

Elok, indah dan menawan untuk dipandang, memikat hati semua orang yang datang, mengundang untuk masuk berkunjung dan ingin tahu apa ajaran Sang Buddha Itu.

Tersusun dengan rapi (awal, tengah dan akhirnya) sebagai sequenze dan serial vision, menampilkan alur cerita yang indah dan pada akhirnya memberi kesan yang menankjubkan dan mengharukan.

Penampilan anggun/luwes dengan tidak menonjolkan diri dalam lingkungan tersebut namun sederhana tapi memikat dengan sentuhan aksentuasi di beberarpa tempat sebagai focal point dan secara keseluruhan berkesan istimewa.

~Edukatif

Desain bersifat mendidik, menampilkan element dekoratif yang bukan semata-mata memberikan kesan indah namun bermakna. Menggali Phylosofi Buddhis untuk diaplikasikan dalam rancang bangun. Menampilkan nilai-nilai yang sarat akan pesan Dhamma, baik dalam karya patung, relief dan tulisan-tulisan.

Konsep desain ini mendasari dalam setiap pemilihan dan penggunaan bahan, garis, bidang/bentuk, tekstur, warna dan pencahayaan disetiap elemen desain, suasana dan kesan ruang/bangunan.

KONDISI VIHARA BUDDHA  GUNA – NUSA DUA

 

(Gambar)

Tampak Depan Bangunan Vihara, cat yang telah mengelupas telah dikerok, stupa dari bahan kuningan namun telah menghitam, dan railing koridor luar yang keropos, sangat berbahaya, sewaktu-waktu bisa terlepas. Pilar Asoka tepat di depan bangunan utama yang belum kelar sejak diresmikan.

         plafon                              Plafond-yang-keropos-akibat-kebocoran-di-lantai                                      Kerusakan pada plafond.                                                                                Plafond yang keropos akibat kebocoran dilantai.

        cat-tembok-mengeluas                              Dome-yang-bocor-saat-hujan                                        Cat tembok mengelupas yang akhirnya dikerok ulang.                 Dome yang bocor saat hujan.

        Reiling-Tangga-Keropos                             Lantai-Keramik-yang-lepas.                                      Railing Tangga Keropos.                                                                                  Lantai Keramik yang lepas.

(Gambar) 

Tembok railing keropos dan membahayakan karena sewaktu-waktu bisa lepas dan jatuh.

Kusen-yang-tak-terawat-dan-list-kusen-dari-batu-alam-yang-riskan-terlepas

Kusen yang tak terawat dan list kusen dari batu alam yang riskan terlepas.