Relief Dhukka : Moha Loba Dosa

Sumber Dhukkha

lobha-dosa
Relief Moha, Lobha, Dosa

Relief ini mengingatkan bahwa Ajaran Buddha hanya mengupas yang satu ini; sumber “Dukkha” dan bagaimana lenyapnya “Dhukkha”. Kehidupan manusia yang berulan-ulang (tumimbal lahir) bersumberkan pada belenggu yang disebut dengan Moha / Kekelirutahuan (Babi), loba / Keserakahan (Ayam) dan Dosa / Kebencian (Ular) yang akhirnya membentuk Ego / Keakuan.

Diletakan dilantai dasar untuk mengingatkan kita ke Vihara untuk belajar dan mengikis 3 akar kejahatan ini, dengan mengendapkan ego/keakuan pada tempat yang paling dasar, untuk memunculkan ke “Bodhi” an yang ada dalam setiap manusia (mano = pikiran, usa = luhur).

Seperti usaha dan perjuangan Boddhisatta menjadi Buddha yang reliefnya ada di depan dan sifat-sifat mulia-Nya (Buddhanusati) terukir pada papan kayu jati di atas relief ini.

Untitled-1

Bangunan Kembar

Untitled-1
Twin Building

Bangunan kembar ini terletak disebelah barat ketika memasuki areal vihara walaupun dengan luas ruang yang cukup minim namu ruangan dirancang agar berkesan lega.

Pengunjung dapat dengan nyaman membaca koleksi buku-buku, menyaksikan video tentang keagungan Sang Buddha dan Ajara-Nya, serta tentang Vihara Buddha Guna.

Bangunan kembar ini terletak disebelah timur di depan bangunan utama. Terbagi menjadi dua ruangan yang berfungsi sebagai ruang informasi dan security, di ruangan ini pengunjung mendapatkan pelayanan informasi tata tertib dan tentang vihara ini.

Ruangan sebelahnya  berfungsi sebagai ruang bursa (merchandise) yang menjual cinderamata Khas Vihara Buddha Guna.

Pilar Asoka

pilar-asoka
Pilar Asoka

Pilar Asoka adalah pilar yang dibangun oleh Raja Asoka, seorang Maharaja sepanjang sejarah India yang lair ± 500 tahun setelah Buddha Parinibbana.

Pembangunan Pilar Asoka adalah sebagai bentuk penghormatan Raja Asoka terhadap Guru Buddha Gotama, karena berkat Dhamma yang diajarkan-Nya menyadarkan sang raja untuk hidup sesuai Dhamma dari kekeliruanya membasmi sanak saudaranya dan menaklukan kerajaan-kerajaan disekitarnya.

Pilar Asoka perlambang perdamaian dan kerukunan Umat Beragama sarat akan pesan Dhamma yang tertuang dalam ukiranya yang indah, seperti : Roda Dhamma yang melambangkan Kebenaran Mulia yang diajarkan Sang Buddha, Gajah melambangkan kelahiran Bodhisatta dalam mimpi Ratu Siri Mahamaya Dewi, Kerbau melambangkan tekad dan keperkasaan Pangeran Sidattha Gotama, Kuda melambangkan Pelepasan Agung menunggangi Kuda Kanthaka dan Singa melambangkan Buddha adalah Raja Dhamma seperti Singa sang raja rimba.

Dekrit Maharaja Asoka

Dekrit Perdamaian dan Kerukunan Hidup Beragama

dekrit

“JANGANLAH KITA MENGHORMAT AGAMA SENDIRI DENGAN MENCELA AGAMA ORANG LAIN.

SEBALIKNYA, AGAMA ORANG LAIN DIHORMATI ATAS DASAR-DASAR TERTENTU.

DENGAN BERBUAT DEMIKIAN, KITA TELAH MEMBANTU AGAMA KITA SENDIRI UNTUK BERKEMBANG,

DI SAMPING MENGUNTUNGKAN PULA AGAMA LAIN.

DENGAN BERBUAT SEBALIKNYA, MAKA KITA AKAN MERUGIKAN AGAMA KITA SENDIRI

DI SAMPING MERUGIKAN AGAMA ORANG LAIN.

OLEH KRENA ITU, BARANG SIAPA MENGHORMAT AGAMANYA SENDIRI DENGAN MENCELA AGAMA

ORANG LAIN SEMATA-MATA KARENA DORONGAN RASA BAKTI KEPADA AGAMANYA SENDIRI DENGAN BERPIKIR: ‘BAGAIMANA AKU DAPAT MELUPAKAN AGAMAKU SENDIRI’, MAKA DENGAN BERBUAT DEMIKIAN IA MALAH MERUGIKAN AGAMANYA SENDIRI.

OLEH KARENA ITU, TOLERANSI DAN KERUKUNAN BERAGAMALAH YANG DIANJURKAN, DENGAN PENGERTIAN, BAHWA SEMUA ORANG

SELAIN MENDENGARKAN AGAMANYA SENDIRI

HENDAKNYA BERSEDIA PULA MENDENGARKAN AJARAN YANG DIANUT OLEH ORANG LAIN…”

 Kinara dan Kinari

KINARA-KINARI
Kinara Kinari

 

Boddhisatta Buddha Gotama pernah terlahir sebagai Kinara dan Putri Yasodhara saat itu terlahir sebagai Kinari (Manusia yang berbadan burung).

Patung Kinara dan Kinari ditempatkan di pilar canopy sebagai perlambang cinta kasih dan kesetiaan.

Penempatan Patung Kinara dan Kinari di depan bangunan utama dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa Guru Agung Buddha Gotama menyebarkan Dhamma karenya cinta kasih-Nya kepada umat manusia dan alam semesta.

Patung ini juga berfungsi sebagai elemen estetika yang artistik yang mengesankan keluwesan dan keanggunan, diharapkan dapat menuntun umat yang berkunjung untuk memulai memperhatikan tindak tanduknya, kesopanannya memasuki areal vihara yang mengagungkan keluhuran sifat-sifat mulia Seorang Buddha.

KONSEP PEMUGARAN VIHARA BUDDHA GUNA – NUSA BALI

 

            Memperhatikan kondisi vihara yang perlu segera penanganan yang serius, panitia harus mempertimbangkan dengan bijaksana usaha yang akan ditempuh dalam pemugaran ini. Merencanakan dari awal tentu akan lebih mudah daripada merubah yang ada dengan memperhatikan kondisi yang ada, memaksimalkan fungsi ruang namun meminimalisasikan budget, disamping mempertahankan dengan “memoles” yang telah ada. Sungguh sebuah tantangan karena pemugaran tentunya dua kali kerja yaitu pekerjaan bongkar dan pekerjaan membangun kembali. Demikian pula jika pekerjaan ini diambil setengah-setengah/tidak tuntas maka tentunya akan memperlihatkan pemandangan yang tidak elok.

            Bagaikan sebuah mimpi bagi panitia untuk mewujudkan vihara yang refresentatif namun ada tekad, keyakinan dan semangat untuk mengahdapi tantangan ini. Akhirnya panitia didukung oleh Forum Ibu-ibu Buddhis Bali dalam penggalian dana, kemudian intensif memikirkan dan bekerja keras dengan penuh keyakinan mewujudkan karya yang terbaik untuk Umat Buddha Bali.

            Vihara Buddha Guna sebagai “Jendela Mengenal Buddhisme di Bali” dan dicanangkan sebagai “Bali Theravadin Buddhist Centre (BTBC)” didesain sarat akan pesan-pesan Dhamma, menampilkan “ Keagungan Sang Buddha”, yang tertuang dalam Buddhanusati (Perenungan terhadap Sifat-sifat Mulia Sang Buddha)”. Sebagai layaknya sebuah vihara maka tempat ini dirancang dengan Konsep Perancangan (Design Concept).

Spritualis~Elegance~Edukatif

~Spiritualis

Memberikan kesan yang tenang, khidmat, agung, megah, menggugah perasaan dan membuat yang berkunjung sadar, dan penuh perhatian,  untuk menaruh rasa hormat dan berhati-hati dalam setiap ruangan. Memunculkan spirit/energy yang positif karena terinspirasi berada dalam ruangan ini.

~Elegance

Elok, indah dan menawan untuk dipandang, memikat hati semua orang yang datang, mengundang untuk masuk berkunjung dan ingin tahu apa ajaran Sang Buddha Itu.

Tersusun dengan rapi (awal, tengah dan akhirnya) sebagai sequenze dan serial vision, menampilkan alur cerita yang indah dan pada akhirnya memberi kesan yang menankjubkan dan mengharukan.

Penampilan anggun/luwes dengan tidak menonjolkan diri dalam lingkungan tersebut namun sederhana tapi memikat dengan sentuhan aksentuasi di beberarpa tempat sebagai focal point dan secara keseluruhan berkesan istimewa.

~Edukatif

Desain bersifat mendidik, menampilkan element dekoratif yang bukan semata-mata memberikan kesan indah namun bermakna. Menggali Phylosofi Buddhis untuk diaplikasikan dalam rancang bangun. Menampilkan nilai-nilai yang sarat akan pesan Dhamma, baik dalam karya patung, relief dan tulisan-tulisan.

Konsep desain ini mendasari dalam setiap pemilihan dan penggunaan bahan, garis, bidang/bentuk, tekstur, warna dan pencahayaan disetiap elemen desain, suasana dan kesan ruang/bangunan.

KONDISI VIHARA BUDDHA  GUNA – NUSA DUA

 

(Gambar)

Tampak Depan Bangunan Vihara, cat yang telah mengelupas telah dikerok, stupa dari bahan kuningan namun telah menghitam, dan railing koridor luar yang keropos, sangat berbahaya, sewaktu-waktu bisa terlepas. Pilar Asoka tepat di depan bangunan utama yang belum kelar sejak diresmikan.

         plafon                              Plafond-yang-keropos-akibat-kebocoran-di-lantai                                      Kerusakan pada plafond.                                                                                Plafond yang keropos akibat kebocoran dilantai.

        cat-tembok-mengeluas                              Dome-yang-bocor-saat-hujan                                        Cat tembok mengelupas yang akhirnya dikerok ulang.                 Dome yang bocor saat hujan.

        Reiling-Tangga-Keropos                             Lantai-Keramik-yang-lepas.                                      Railing Tangga Keropos.                                                                                  Lantai Keramik yang lepas.

(Gambar) 

Tembok railing keropos dan membahayakan karena sewaktu-waktu bisa lepas dan jatuh.

Kusen-yang-tak-terawat-dan-list-kusen-dari-batu-alam-yang-riskan-terlepas

Kusen yang tak terawat dan list kusen dari batu alam yang riskan terlepas.

Pemugaran Vihara Buddha Guna

Kompleks Puja Mandala – Nusa Dua Bali

Tujuan Pemugaran Vihara Buddha Guna

  1. Kondisi bangunan dari sejak diresmikan pada tanggal 2 juli 2000 hingga kini nyaris tidak tersentuh perawatan yang memadai sehingga kerusakan-kerusakan yang terjadi menjadi terakumulasi.
  1. Kerusakan terjadi cukup serius / parah di lantai 3, yaitu pada ruang Uposathagara, dimana pada saat hujan maka ruangan tergenang air akibat kebocoran pada atap yang perlu penanganan segera, hal ini telah diatasi pada renovasi pada tahap pertama. 
  1. Pada bagian tertentu dari bangunan telah mengalami kerusakan yang cukup parah, seperti : beberapa bagian di plafond terutama di lantai 3 telah banyak yang keropos dan rusak akiabat bocor, railing selasar banyak yang keropos dan sangat membahayakan karena beberapa buah telah ada yang lepas dan jatuh, sebagian besar cat dinding bangunan luar bangunan telah mengelupas, hal ini terjadi karena teknik pengerjaan dan pemilihan bahan yang tidak memadai, serta usia dan perawatan yang nyaris tidak ada. Hal ini memperlihatkan pemandangan yang sungguh memperhatinkan. 
  1. Performa bangunan tidak didukung pemilihan kualitas bahan bangunan yang memadai sehingga mempercepat proses kerusakan bangunan, terutama dibagian luar bangunan yang bersentuhan langsung dengan cuaca.
  1. Ruangan (Dhammasala) kurang nyaman, terutama saat digunakan pada upacara Hari Raya Umat Buddha yang dipenuhi umat yang datang, maka keadaan ruang menjadi panas dan membuat gerah umat yang hadir.
  1. Kerusakan yang terjadi harus segera diatasi untuk menjaga “Image Umat Buddha Bali “ wajah dan citra Umat Buddha Bali tercermin di tempat ini, karena lokasi vihara ini berada di tempat strategis dipusat kawasan wisata Bali Tourism Development Coorporation (BTDC) Nusa Dua Dan dikompleks Puja Mandala ini, Vihara Buddha Guna Bersanding dengan tempat ibadah umat lainya. Sungguh-sungguh menjadi pemandangan yang tidak menarik bila vihara yang terletak di bagian tengah-tengah Kompleks Puja Mandala ini penampilanya sangat meperihatinkan, mengurangi keindahan pemandangan keseluruhan  kompleks tempat ibadah ini.

Tujuan Pengembangan Vihara Buddha Guna

  1. Kondisi Vihara Buddha Guna yang jauh dari pemukiman Umat Buddha dan keberadaan umat Buddha yang ada disekitar vihara sangat minim namun demikian lokasi vihara ini cukup terjangkau, strategis dan bergengsi maka diperlukan upaya untuk menarik perhatian dan minat Umat Buddha untuk berkunjung dan beraktivitas di tempat ini.
  1. Menyiapkan wadah dan fasilitas yang memadai untuk menunjang kegiatan umat Buddha. Kedinamisan kehidupan disebabkan karena adanya program kegiatan dan program kegiatan dapat terselenggara karena didukung oleh fasilitas yang memadai. Bermuara dari pemikiran tersebut perlu disediakan fasilitas yang dapat menunjang kegiatan anak-anak, remaja dan pemuda serta ibu-ibu yang merupakan civitas yang cukup aktiv, hal ini perlu mendapat perhatian dalam pengembangan vihara ini.
  1. Lokasi vihara yang berada dalam Kompleks Puja Mandala di kawasan wisata di Bali telah menjadi daya tarik wisatawan nusantara dan mancanegara untuk berkunjung, hal ini perlu diperhatikan untuk dikelola dengan baik sehingga keberadaan vihara ini dapat menjadi “Jendela Informasi Buddhism di Bali, dan sebagai tempat untuk menyalurkan kebajikan bagi umat yang berkunjung.